APPRECIATIVE INQUIRY

aiWatkins dan Mohr (2001) mendefinisikan AI sebagai berikut :

“Collaborative and highly participative, system-wide approach to seeking, identifying, and enhancing the “life-giving forces” that are present when a system is performing optimally in human, economic, and organizational terms. It is a journey during which profound knowledge of a human system at its moments of wonder is uncovered and use to con-construct the best and highest future of that system.

The term “appreciative” comes from the idea that when something increase when claue it “appreciates”. Therefore, AI focuses on the generative and life-giving forces in the system, the things we want to increase. By “inquiry” we mean the process of seeking to understand through asking questions”.

Lalu saya cuplik sedikit dari sini :

Used in place of the traditional problem solving approach-finding what is wrong and forging solutions to fix the problems-Appreciative Inquiry seeks what is “right” (appreciativeinquiryunlimited.com)

AI adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan sisi kekuatan dari suatu organisasi atau komunitas sosial, untuk menyusun suatu kebijakan menuju masa depan. Dengan demikian, AI itu adalah suatu metode riset yang sifatnya futuristik, dipergunakan untuk menyusun langkah-langkah atau pemodelan masa depan, yang umumnya dilakukan dengan pendekatan kualitatif.

AI berakar kepada paradigma baru (emerging paradigm) terhadap paradigma ilmiah dalam ilmu pengetahuan, sebagai alternatif terhadap paradigma yang sudah ada saat ini (empiris / positivist) memang dirasa cocok untuk ilmu alam.

Itulah sebabnya mengapa dalam penelitian ilmu alam, seperti fisika, paradigma yang sudah ada sebelumnya menjadi relevan, karena memang obyek yang diteliti terpisah dari si peneliti. Misalnya jika meneliti gaya gravitasi atau kehidupan ikan, maka kita bisa bersikap obyektif, karena obyek penelitian terpisah dari si peneliti, dan si peneliti bisa melakukan intervensi apapun kepada obyek penelitian untuk menjelaskan sesuatu.

Sedangkan dalam ilmu sosial, peneliti dan obyek penelitian sering tidak bisa dipisahkan, karena obyek penelitian juga berupa sistem sosial manusia, termasuk paradigma. Peneliti susah untuk menarik jarak dengan obyek yang ditelitinya, setidaknya peneliti sebagai seorang manusia juga punya paradigma tertentu untuk menilai paradigma lain dalam sistem sosial. Inilah yang menjadi penyebab mengapa unsur subyektivitas menjadi tinggi dalam penelitian ilmu sosial, dan berdasarkan paradigma baru ini adalah sesuatu hal yang dapat diterima. Ini dikenal dengan istilah constructivist epistemology.

Mereka menjelaskan bahwa paradigma baru di atas dikenal juga dengan istilah social constructionism yang memberikan alternatif terhadap paradigma yang sudah ada yang dikenal dengan istilah positivist / empiricist dalam memahami dunia atau fenomena. Menurut paradigma social constructionism mengatakan bahwa jika kita “mengetahui” sesuatu, itu bukan berarti itu adalah suatu kebenaran yang sesungguhnya (we “know” the world don’t necessarily reflect real divisions atau our ways of understanding are not necessarily closer to the truth than are other ways).

Paradigma baru ini juga mengatakan bahwa pemahaman kita mengenai dunia atau fenomena muncul bukan dari realitas dunia yang sebenarnya, melainkan melalui cara kita mengkontruksi bersama atau mempersepsikan dunia atau fenomena tersebut. Dengan demikian, proses hubungan antar manusia dan interaksi sosial adalah sumber “kebenaran”. Paradigma baru ini juga mengatakan bahwa proses pemahaman atau pengetahuan dan aksi sosial seperti interaksi antar manusia berlangsung pada saat yang bersamaan.

Lebih lanjut Watkins dan Mohr (2001) mengatakan bahwa berdasarkan paradigma baru tersebut, maka AI memiliki lima prinsip dasar, yaitu :

  • The constructionist principle: pengetahuan mengenai organisasi atau suatu komunitas sosial dibentuk dari suatu dialog dengan melibatkan banyak pihak, dan dari situlah realitas dikontruksi bersama.
  • The simultanety principle: dialog (inquiry) dan perubahan tidak dapat dipisahkan. Dialog adalah awal dari perubahan. Dialog berisi berbagai bentuk intervensi untuk organisasi atau komunitas sosial. Dari dialog dan perubahan inilah masa depan dicapai secara kolektif.
  • The anticipatory principle: bahan baku utama untuk mengkontruksi realitas adalah pemahaman atau penerawangan kolektif (collective imagination) dan wacana (discourse) yang dimiliki oleh manusia yang ada di dalamnya. Ini sejalan dengan konsep soft system methodology, yang dimulai dari penerawangan ideal mengenai realitas, menuju ke arah yang paling “membumi”.
  • The poetic principle: organisasi atau komunitas sosial adalah suatu open book yang bisa “ditulisi” oleh berbagai pihak sebagai suatu hasil interaksi sosial, baik di dalam maupun di luar organisasi dan komunitas sosial.
  • The positive principle: AI mensyaratkan suatu sikap positif untuk mencapai hasil yang terbaik, artinya setiap pihak yang terlibat memang berniat untuk memberikan yang terbaik untuk kemajuan organisasi atau komunitas sosial tersebut. Tanpa sikap positif ini, dialog yang kontruktif untuk menyusun realitas tidak akan terjadi.

Tahapan penelitian berbasis AI ini dilakukan dengan mempedomani Four-I Model yang dikembangkan oleh Mohr dan Jacobsgaard (Watkin dan Mohr, 2001). Four-I Model ini terdiri dari intiate, inquire, imagine, dan innovate. Ringkasan tahapan penelitian yang terdiri dari definisi tahapan Four-I Model, lalu kegiatan yang dilakukan, serta hasil dari setiap tahapan disajikan pada gambar berikut ini.

Sejarah AI dapat dilihat di sini.

Tulisan asli dari artikel ini dan resensi buku MSDM dan Manajemen lainnya, dapat juga diakses secara langsung melalui: APPRECIATIVE INQUIRY

Kontributor:

Riri SatriaRiri Satria, S. Kom, MM. Selain mejadi blogger yang produktif, Sarjana dari Fakultas Ilmu Komputer UI dan MM bidang manajemen stratejik & internasional dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini adalah kandidat Doctor dari Program Pasca Sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB).
Selama lebih dari 10 tahun kiprahnya di bidang pendidkan dan konsultansi, dia pernah aktif di sebagai konsultan / Dosen di berbagai institusi di antaranya: KPMG (Klynvelt Peat Marwick Goerdeler), Lembaga Manajemen PPM, Program Magister Manajemen – Sekolah Tinggi Manajemen PPM, PT. Daya Makara UI (Makara UI Consulting). Saat ini beliau Menjadi knowledge entrepreneur dengan memimpin sendiri sebuah Lembaga Konsultansi Manajemen di Jakarta.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email
Posted in: Book Reviews, Featured

About the Author:

Post a Comment