By February 16, 2009 0 Comments Read More →

Negaholic: Tips perusahaan menghadapi manajer sulit

difficult_bossBenarkah  sebutan negaholics atau difficult people hanya milik karyawan saja? Tidak juga. Sebagai manusia yang tak luput dari kelemahan, dua sebutan itu bisa juga terjadi pada manajer. Manajer, sebagai pimpinan unit, bisa  juga sebagai pengeluh, penunda solusi,  penggertak, penggugup, dan pendiam. Sebagai pengeluh, manajer bisanya hanya mengungkapkan keluhan-keluhan saja. Apakah keluhan menyangkut beratnya pekerjaan, karyawan yang bandel, kurangnya fasilitas kerja, dsb. Dia cenderung berdiam diri saja tanpa mencari pendekatan solusi. Kemudian sebagai penunda, manajer seperti karyawan bisa saja mengulur-ngulur waktu penyelesaian pekerjaannya. Dalam pandangannya masih ada waktu hari esok untuk mengerjakan yang diperintahkan direksinya. Atau kalau ada masalah yang dihadapi tidak segera diatasi. Padahal menunda satu masalah akan menimbulkan masalah lebih dari satu.

Selain itu manajer pun bisa sebagai penggertak. Dengan sedikit ancaman, manajer melakukan gertakan dengan suara keras kepada karyawannya. Namun tanpa alasan yang jelas yang bisa dipahami karyawan. Sementara itu ternyata manajer pun bisa menjadi penggugup. Kalau ada masalah sedikit saja, manajer segera bingung dan gugup. Tidak sigap menanganinya dengan tenang. Keadaan demikian tentunya bisa jadi membuat karyawan ikut gugup pula. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Nah,sebutan lain yakni pendiam, berarti sang manajer cenderung punya sifat tertutup. Dia sangat jarang sekali berkomunikasi langsung dengan lingkungannya. Pelit untuk mengutarakan pendapat atau masalah yang dihadapinya. Yang dilakukan cukup dengan memberi perintah dengan ucapan ala kadarnya. Atau berkomunikasi lewat media lain, bisa lewat orang lain atau tertulis.

Perilaku manajer di atas yang jelas akan memengaruhi lingkungan kerja. Bisa-bisa para karyawannya akan apatis dengan pekerjaannya. Fungsi kendali dari manajer akan tidak efektif. Ujung-ujungnya kinerja unit bersangkutan berada di bawah standar perusahaan. Pertanyaannya mengapa sampai ada perilaku manajer seperti itu? Apakah ada yang salah dalam sistem rekutmen calon manajer? Ataukah memang ada faktor-faktor penyebab intrinsik dan ekstrinsik? Dalam artikel ini tidak akan diuraikan faktor-faktor penyebab tersebut. Yang jauh lebih penting adalah apa yang harus dilakukan perusahaan dan lingkungan terdekatnya.

Dari sisi perusahaan, direksi sebagai atasan manajer langsung harus melakukan identifikasi apa saja faktor-faktor yang menyebabkan manajer berperilaku sulit. Setelah diketahui penyebabnya maka barulah direksi mengadakan pendekatan personal kepada manajer. Pendekatan sebaiknya dilakukan secara formal dan  informal. Secara formal, pihak manajer dapat diminta mengikuti pelatihan yang berdimensi membangun kepribadian seperti pelatihan soft skills, kepemimpinan, dan komunikasi efektif. Sementara itu, dalam pendekatan informal direksi secara pribadi memberikan pandangan dan saran-saran perubahan sifat atau sikap yang sebaiknya dilakukan sang manajer sulit itu.

Tentunya bergantung pada sebutan tipe manajer sulit tersebut maka saran pendekatan pun bisa berbeda-beda. Disinilah terjadi dialog atau interaksi seberapa jauh manajer memahami solusi yang disampaikan direksi. Katakanlah manajer menerima yang dianjurkan direksi yakni lewat pelatihan dan pembinaan diri sendiri. Maka selanjutnya pihak direksi perlu memantau proses perubahan yang ada. Sekaligus dilakukan penilaian terhadap kemajuan perubahan yang terjadi. Tentu saja karena keberhasilan perubahan merupakan fungsi dari proses dan dimensi waktu maka  pengaruhnya tidaklah bisa dilihat dalam tempo singkat. Dan ada unsur yang sangat signifikan pengaruhnya yakni unsur kesediaan dari manajer untuk berubah. Walaupun pihak direksi telah memberikan remedi permasalahan yang bagus namun kalau dalam prosesnya  ada resistensi atau minimal keraguan dari sang manajer tersebut untuk menerimanya maka perubahan yang terjadi bakal mengalami stagnasi.

Tulisan asli artikel ini dan tulisan-tulisan menarik lain tentang MSDM dan personal development dapat juga diakses melalui: MENGHADAPI MANAJER SULIT

Kontributor:
Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira seorang blogger yang produktif, beliau adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, di antaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan, Manajemen Program Komunikasi. MSDM Internasional, Manajemen Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan,

Beliau adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya Program Doctor bidang Bisnis dan dan saat ini masih aktif berbagi ilmu di Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri dan pemikiran-pemikiran beliau, silakan kunjungi Blog beliau di Rona Wajah

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email

About the Author:

Post a Comment