Respect at work: Mengatasi masalah pelecehan seksual di tempat kerja

pelecehanSaya pernah bekerja di perusahaan asing yang mempunyai kantor pusat di Amerika Serikat. Banyak hal positif yang didapatkan selama bekerja disana, diantaranya menjadi pionir atau champion untuk program “Respect at work”

Rupanya di Amerika pelecehan terhadap perempuan sudah menjadi hal yang sangat sensitif sehingga perlu diatur dalam peraturan kerja. Pengaturannya meliputi bagaimana cara kita berbicara dengan lawan jenis (disini lebih ditekankan bagaimana cara laki-laki berbicara kepada rekan kerja perempuannya. Dimulai dengan jarak yang dianggap pantas antara mereka berdua, jangan terlalu jauh tapi juga tidak boleh terlalu dekat.

Untuk kalangan orang Indonesia jarak sekitar 60 cm adalah jarak yang paling dekat yang direkomendasikan. Lebih dekat dari itu akan menimbulkan rasa tidak nyaman terutama bagi si perempuan, apalagi jika lawan bicaranya adalah orang yang lebih tinggi jabatannya atau usianya. Untuk negara Asia hampir sama ukuran jaraknya, sedangkan untuk negara Amerika latin misalnya kebudayaan mereka lebih akrab dan merupakan hal yang biasa jika jaraknya jauh lebih pendek.

Topik pembicaraan juga temanya harus sesuai dengan pekerjaan jangan menyerempet ke hal yang berbau pelecehan Misalnya, mengumpat dengan kata-kata kotor, cerita tentang hal yang berbau pornografi atau memuji secara fisik misalnya tentang salah satu bagian tubuh yang akan membuat perempuan merasa tidak nyaman. Apalagi jika ditambah dengan kebiasaan “ramah” atau rajin menjamah lawan bicara baik dalam bentuk colekan atau berbicara sambil merangkul bahu lawan bicara.

Peralatan kantor juga tidak boleh ditambah dengan sentuhan pribadi yang berbau hal-hal yang seperti disebutkan diatas. Screen komputer tidak diperbolehkan menampilkan gambar wanita sexy apalagi tanpa busana, begitu juga kalender yang ditempatkan dimeja kerja harus berisi gambar yang sopan.

Ternyata banyak karyawan wanita yang sebetulnya merasa tidak nyaman dengan situasi ini tapi tidak berani atau enggan untuk menyampaikannya secara langsung. Kalaupun ada yang menyampaikan keberatannya biasanya akan ditanggapi dengan tidak serius, malah ditertawakan dianggap terlalu ke “GR’ an. Peraturan di atas karena sudah masuk kedalam “Code of conduct” dari perusahaan, maka pelanggarannya akan dikenakan sanksi yang cukup berat, bahkan bisa dikeluarkan.

Baiknya di perusahaan ini sebelum peraturan dilaksanakan dibentuk dulu team yang akan melaksanakan sosialisasi kepada seluruh karyawan, agar nanti tidak ada alasan lagi untuk karyawan mengatakan tidak tau tentang peraturan ini. Sebagai champion dari program ini saya diberikan bahan materi yang akan disosialisasikan dan diundang ke Hongkong untukmengikuti pelatihan bersama champion dari negara Asia pasific. Di Hongkong diberikanpemahaman kenapa program ini wajib dilaksanakan dan tujuan akhirnya adalah “lingkungan kerja yang bebas dari gangguan pelecehan”. Kami mendiskusikan juga tentang bagaimana pengertian pelecehan itu berdasarkan kebudayaan setiapnegara.

Katanya sih karyawan perempuan dari Amerika Selatan yang terbiasa bergaya sexy dalam berpakaian kerja menjadi kehilangan motivasi kerja karena sekarang tidak ada lagi pujian langsung mengenai penampilannya. Padahal mereka sangat menikmati pujian ini dan memang merupakan hal yang biasa untuk memberikan komentar terhadap penampilan seorang perempuan disana.

Sosialisasi yang saya lakukan dikantor juga bukan merupakan hal yang mudah, banyak canda, protes bahkan keberatan jika laki-laki dijadikan sebagai tersangka terus menerus dalam masalah pelecehan. Bagaimana jika mau sama mau bagaimana? jika perempuannya berpakaian sangat seronok sehingga mengundang perhatian? sampai komentar ini kan masalah pribadi kok pake diatur segala. terlepas dari pro dan kontra memang sebaiknya kantor terbebas dari hal-hal yang berbau pornografi.

Sebagai perempuan sebaiknya berpakaian dengan sopan dan juga menjaga perilaku secara profesionaal agar tidak mengundang komentar yang kurang baik. Begitu juga karyawan laki-laki hendaknya memahami bahwa hubungan kerja hendaklah dilakukan dengan sopan dan profesional. Jika ingin melaksanakanh hobby cerita porno atau colak colek, bisa dilakukan diluar jamkerja dan diluar kantor dengan kelompok orang yang mempunyai hobby yang sama. Okay…

Tulisan asli dari artikel ini dan tulisan-menarik lainnya tentang pengelolaan sumberdaya manusia, dapat juga diakses langsung melalui: Respect at Work

Kontributor:

iftidaIftida Yasar, SH, M.Si adalah alumni Fakultas Hukum UNPAD dan lulusan Magister Psikologi UI. Beliau adalah seorang entrepreneur dan konsultan SDM yang sangat dikenal dalam bidang hubungan industrial, terutama dalam bidang penempatan tenaga kerja / outsourcing, training baik klasikal / outbound, dan sebagai pengasuh di majalah bertemakan HRM

Selain sebagai Presiden Direktur di Persaels, sebuah perusahaan jasa bidang outsourcing, berbagai jabatan dalam aktivitasnya di bidang human development dipercaya pada beliau, diantaranya: Ketua Komite Tetap Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri pada Kamar Dagang dan Industri, Sebagai Wakil Sekertaris Umum APINDO, dan Penasehat ABADI (Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia)

Di sela-sela jabatan yang lebih bersifat formal di atas, Beliau juga banyak terlibat dalam berbagai aktivitas sosial yang menyangkut: Women issues, Labour issues, Youth issues, dan kegiatan masyarakat lainnya.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email
Posted in: Featured, Harassment, Humour

About the Author:

3 Comments on "Respect at work: Mengatasi masalah pelecehan seksual di tempat kerja"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. Yulia says:

    Nice..tobe heard

  2. Silveiro says:

    Bagus,,,,,tapi kalau apa kata masyarakat kita di Asia, but di Europa and Amerika itu biasa-biasa saja.

Post a Comment