By January 27, 2009 0 Comments Read More →

TAHUN KERBAU: TAHUN KERJA KERAS?

Menurut kalender Cina, tahun 2009, hari ini adalah tahun baru imlek 2560 dan tergolong  Tahun Kerbau dengan unsur tanah. Menurut kepercayaan masyarakat Cina, peruntungan  tahun ini lebih buruk ketimbang sebelumnya. Kondisi perekonomian masih jauh dari kepulihan. Entah karena faktor kebetulan atau memang kondisi nyata, tampak memang seperti itu yakni pada tahun 2009 bakal terjadi krisis ekonomi global yang semakin parah. Tambahan pengangguran global saja diperkirakan mencapai jumlah sekitar 20 juta orang. Di Amerika sendiri ditaksir bakal ada dua juta penganggur. Kalau pada saat normal mereka ngantre untuk memperoleh pekerjaan maka kini mereka melakukan hal sama untuk mendapat tunjangan pangangguran. Perusahaan-perusahaan besar seperti microsoft, industri manufaktur otomotif, perbankan seperti citigroup, diperkirakan bakal memutuskan hubungan kerja dengan sekitar 200 ribuan sampai 500ribuan  karyawan. Indonesia pun terkena getahnya. Pada tahun ini kalau tak ada kebijakan stimulus ekonomi diperkirakan tambahan pengangguran di Indonesia bisa mencapai satu sampai satu setengah juta orang.

Karena bukan pakar fengsui, saya tidak membahas hal ikhwal tahun kerbau. Yang menjadi fokus perhatian adalah makna “kerja keras”. Dan seruan itu tidak harus terjadi pada tahun-tahun khusus seperti tahun ini saja. Etos kerja keras seharusnya menjadi perilaku yang nempel atau otomatis mendarah mendaging (internalisasi) pada setiap orang. Tiada hari tanpa kerja keras. Mereka yang berperilaku santai termasuk pihak manajemen puncak akan tergusur oleh perilakunya sendiri yang tidak produktif. Semakin tingginya perilaku tidak produktif semakin tidak mampunya seseorang menghadapi turbulensi eksternal. Kebijakan stimulus apapun dari pemerintah kalau secara agregasi para pelaku bisnis kurang memiliki etos kerja keras akan percuma saja. Hal ini diduga sangat berkait dengan budaya kerja produktif mulai di tingkat keluarga, sekolah,  sampai di tempat kerja.

Budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen:

  1. pemahaman substansi dasar tentang bekerja,
  2. sikap terhadap pekerjaan,
  3. perilaku ketika bekerja,
  4. etos kerja dan
  5. sikap terhadap waktu.

Bekerja seharusnya dipandang sebagai ibadah, kehidupan, panggilan jiwa, aktualisasi diri dan kesucian. Sebagai ibadah, bekerja dinilai sebagai tanda rasa syukur kepada Allah atas kehidupan yang dijalaninya. Bekerja dilakukan secara ikhlas semata-mata untuk memperoleh keridhoan Allah. Sebagai kehidupan, hidup diabdikan dan ditujukan untuk beribadah/bekerja sesuai dengan ajaran agama. Sementara sebagai panggilan jiwa, bekerja harus didasarkan pada  pengabdian secara profesional dan efisiensi waktu. Sebagai aktualisasi diri, bekerja terkait dengan peran, impian atau cita-cita dan keinginan kuat si pelakunya. Kerja tidak dipandang sebagai kegiatan rutin melainkan sebagai bentuk pengembangan diri dan organisasi. Dia harus terus mengoptimumkan sumberdaya manusianya. Selain itu bekerja dipandang  sebagai sesuatu aktifitas padat dengan kesucian. Artinya ia harus dijaga dan tidak terkontaminasi oleh  perbuatan ingkar, mungkar, dan dosa-dosa lainnya seperti korupsi dan kezaliman. Pertanyaannya apakah semua pekerja utamanya pihak manajemen sudah berbudaya kerja produktif?

Pemahaman pekerja tentang etos  kerja keras diperkirakan masih lemah. Budaya organisasi atau budaya perusahaan masih belum banyak dijumpai. Hal ini pulalah juga agaknya yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. Perusahaan belum mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. Seolah-olah pekerja dan manajemen tidak memiliki sistem nilai apa yang harus dipegang dan dilaksanakan. Ditambah dengan rata-rata pendidikan pekerja yang relatif masih rendah maka produktivitas pun  rendah. Karena itu tidak heran produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah bahkan sekedar dibanding dengan negara-negara Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Dalam keadaan seperti itu maka derajat persaingan bisnis perusahaan-perusahaan  Indonesia relatif masih rendah.

Kembali ke makna tahun kerbau, kalangan pakar fengsui mangatakan tahun ini  adalah tahun tanah atau bumi. Dengan kata lain, kalau ini benar konon  keterdekatan kerbau dengan bumi akan menciptakan sinerji yang lebih baik, terutama buat bisnis-bisnis yang dekat dengan elemen bumi dan atau tanah seperti agribisnis dalam arti luas (produksi, pengolahan, distribusi, dan pemasaran). Umumnya para pekerja di sektor agribisnis termasuk ulet atau beretos kerja keras. Terlepas dari benar tidaknya pemaknaan tentang tahun ini, seharusnya dari fenomena krisis finansial global ini pemerintah menuai hikmah. Yakni mulai semakin sadar secara substansi bahwa sektor pertanian dengan kebijakan revitalisasinya harus  mendapat perhatian lebih serius lagi. Bersama-sama dengan sektor riil lainnya maka diharapkan sektor pertanian akan mampu menjadi pelaku kecenderungan utama pembangunan nasional. Seperti yang terjadi pada krisis ekonomi tahun 1998, sektor pertanian lah yang mampu tumbuh walau relatif kecil yakni sebesar 1,6%.  Sementara sektor-sektor lain mengalami konstraksi pertumbuhan. Tentunya perlu dukungan kerja keras dan cerdas dari semua lapisan masyarakat.

Artikel asli dari editorial ini dan artikel lainnya tenang MSDM dapat diakses juga pada: TAHUN KERBAU : TAHUN KERJA KERAS?

Kontributor:
Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira seorang blogger yang produktif, beliau adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, di antaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan, Manajemen Program Komunikasi. MSDM Internasional, Manajemen Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan,

Beliau adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya Program Doctor bidang Bisnis dan dan saat ini masih aktif berbagi ilmu di Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri dan pemikiran-pemikiran beliau, silakan kunjungi Blog beliau di Rona Wajah

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email
Posted in: Editorial

About the Author:

Post a Comment