By December 4, 2008 1 Comments Read More →

MOBILE WORKERS

Mobile WorkersSaat menulis posting ini saya sedang berada di executive lounge terminal 2F bandara internasional Soekarno Hatta menunggu boarding ke Denpasar. Somehow, saya terinspirasi untuk memunculkan tulisan saya yang sudah lama ini, mungkin karena sedang menjadi mobile worker. Tulisan saya ini pernah dimuat pada majalah Manajemen tahun 2002.

Profesi saya sebagai konsultan serta dosen atau instruktur manajemen, membuat saya bekerja berpindah-pindah dari suatu klien ke klien yang lain. Suatu pagi saya berada di klien di Jakarta, lalu siangnya berada di klien yang lain di daerah Bekasi. Malamnya saya harus berada di kantor di Jakarta untuk mengajar di kelas Magister Manajemen (MM). Irama kehidupan sehari-hari memang tidak selalu mengikuti pola demikian. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa lokasi kerja saya sering berpindah-pindah. Seringkali klien yang saya tangani tidak hanya berada di Jakarta. Saya bisa berada di Bontang Kalimantan Timur selama seminggu, lalu berlanjut ke Tanjung Enim di Sumatera Selatan selama seminggu. Di samping itu, saya juga memiliki kegiatan lain, yaitu menulis berbagai artikel untuk media cetak, yaitu surat kabar dan majalah.

Sehari-hari saya ditemani komputer notebook yang berisikan berbagai bahan presentasi, bahan mengajar, serta artikel-artikel yang saya tulis. Jika diperlukan, notebook tersebut siap dihubungkan ke internet melalui modem. Saya bisa mengirimkan berbagai laporan kepada klien melalui e-mail, juga menerima PR atau paper yang ditulis peserta program MM, serta mengirimkan artikel ke berbagai media. Semuanya dilakukan melalui e-mail. Bahkan seringkali bimbingan tesis untuk peserta MM dilakukan melalui e-mail dan jika sangat diperlukan, baru dilakukan tatap muka dengan perjanjian terlebih dahulu. Apakah sopan mengumpulkan PR atau bimbingan tesis melalui e-mail ? Saya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan seperti itu. Yang jelas, saya tidak menemukan sedikitpun celah “ketidaksopanan” dari pola demikian.

Bagaimana jika ada hal yang sangat mendadak ? Barangkali mengirim e-mail membutuhkan waktu. Jangan khawatir ! Ada fasilitas short message service (SMS)
pada telepon selular. Jika diperlukan, e-mail dapat diakses melalui telepon selular. Rasanya semuanya menjadi semakin mudah. Ruang gerak saya tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Saya hanya pergi ke kantor jika ada keperluan yang mendesak, seperti rapat koordinasi, mengajar (ini jelas perlu kehadiran di kelas), atau ada janji tertentu dengan teman, calon klien, atau peserta program MM. Jika diperlukan, saya bisa melakukan koordinasi dengan atasan saya melalui fasilitas teleconferencing sederhana, yaitu memanfaatkan fasilitas multimedia di internet. Jika saya memerlukan sesuatu, saya cukup menghubungkan diri dengan internet, lalu login ke server di kantor, dan saya bebas mencari bahan presentasi, laporan, atau informasi lain yang saya butuhkan.

Semua kondisi di atas, walaupun pada skenario yang masih sederhana, adalah kondisi ideal yang saya impikan ! Ternyata tidak semua dapat terwujud dengan mudah. Sebagian besar kondisi di atas hanyalah impian. Saya bermimpi menjadi mobile worker dengan memanfaatkan segala fasilitas teknologi informasi yang tersedia, tetapi ternyata tidak semudah itu. Berbagai pendapat memang telah mengulas bahwa mobile workers dapat meningkatkan produktivitas karyawan, mengurangi biaya operasional kantor, membuat karyawan menjadi lebih leluasa dan fleksibel sehingga tidak mengalami stress asalkan semua target pekerjaannya selesai dengan baik dan tepat waktu.

Mengapa mengurangi biaya operasional kantor ? Kita ruangan kantor tidak perlu luas dan besar. Lalu mengapa saya harus menempuh lalu lintas yang macetnya setengah mati di pagi hari hanya sekedar supaya bisa menekan absensi sebelum pukul 8:00 pagi ? Ini bisa menyebabkan stress di pagi hari. Hanya saja tentu berbeda kasusnya jika harus mengajar pukul 8:00 pagi. Suka tidak suka, kemacetan lalu lintas tersebut harus ditempuh. Tetapi yang jelas, perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi terutama mobile telecommunication technology telah mengubah paradigma work hard menjadi work smart. Para mobile workers sebetulnya berkeinginan untuk worksmart.

Dilema yang Dihadapi

Walaupun demikian, tetap saja ada dilema yang dihadapi oleh para mobil workers. Dilema tersebut adalah (1) infrastruktur teknologi, (2) berbagai peraturan kerja pada perusahaan, (3) hubungan dengan para stakeholders (atasan, teman sekerja, bawahan, klien atau customer, serta pihak-pihak lainnya yang berkepentingan), serta (4) tingkat kematangan (maturity) perusahaan yang berkaitan dengan teknologi.

Dilema Pertama adalah infrastruktur teknologi. Kita semua memahami bahwa teknologi informasi dan telekomunikasi adalah ujung tombak berkembangnya pola mobile workers ini. Peran teknologi ini tidak lagi sekedar support, melainkan sudah menjadi enabler, yaitu business enabler, style enabler, dan sebagainya. Jika tidak didukung oleh infrastruktur teknologi yang handal dan memadai, maka mobile workers ini akan tersendat langkahnya. Ini sangat berbahaya dan bisa menjadi kontraproduktif.

Mengapa kontraproduktif ? Karena para mobile workers bisa mengalami stress apabila infrastruktur teknologi yang mereka pergunakan tidak mendukung sepenuhnya pekerjaan mereka. Padahal mereka ini sangat dinamis, fleksibel, dan berpotensi untuk berproduktivitas tinggi. Saya sendiri kesal, ketika telepon selular saya beberapa kali tidak dapat digunakan akibat tidak adanya sinyal. Padahal saya sedang berada di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta. Saya akan memaklumi jika itu terjadi saat saya sedang berada di pedalaman pulau Sumatera yang jauh dari keramaian. Itu pun sekarang bisa diatasi dengan telepon selular yang langsung ke satelit walaupun saya tidak memilikinya. Akibatnya saya tidak dapat menghubungi beberapa rekan dan klien saya, dan saya jadi kelimpungan.

Hal lain yang sejenis terjadi sewaktu saya ingin connect ke internet service provider di Jakarta dari wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor. Telepon wilayah Cileungsi ini masih termasuk Jakarta dengan kode 021, tetapi kualitas jalur komunikasinya tidak bagus. Akibatnya saya sering gagal mentransfer dokumen yang ukurannya agak besar melalui internet, karena koneksinya sering terputus. Inilah dilema pertama, di mana para mobile workers sangat tergantung kepada fasilitas teknologi informasi dan telekomunikasi. Jika suatu saat fasilitas itu sedang down atau tidak berfungsi, dia pasti kelimpungan dan akibatnya kontraproduktif !

Dilema kedua adalah peraturan tempat kerja terutama tentang jam kerja kantor. Para mobile workers umumnya mendambakan jam kerja yang sangat fleksibel. Yang terpenting bukanlah jadwal jam kerja, melainkan hasil kerja dan produktivitas. Mungkin karena perbedaan pandangan inilah para mobile workers dianggap kurang disiplin. Sebetulnya peraturan kerja ini adalah perwujudan dari filosofi perusahaan, apakah work hard atau work smart ?

Para mobile workers akan berpendapat bahwa tindakan untuk menempuh lalu lintas yang macetnya minta ampun pagi hari di Jakarta dan tidak ada pekerjaan yang urgent untuk ditangani, adalah suatu tindakan bodoh. Kondisi yang lebih parah tentu akan terjadi jika kewajiban menekan absensi kantor sebelum jam 8:00 tidak diikuti dengan disiplin kerja yang benar. Artinya setelah menekan absen lalu santai baca koran, jalan-jalan tidak karuan, atau ngobrol yang tidak produktif. Inilah dilema kedua yang dihadapi oleh mobile workers, yaitu berhadapan dengan peraturan kantor yang tidak mendukung pola kerja tersebut.

Dilema ketiga adalah hubungan dengan stakeholders. Seorang yang mobile worker tidak akan dapat bekerja secara optimal apabila rekan-rekan sekerjanya menderita penyakit “gagap teknologi” alias “gaptek”. Rekannya tidak bisa menggunakan e-mail, tidak bisamengakses internet, dan jarang menggunakan komputer. Begitu juga dengan pihak-pihak yang lain. Saya menggunakan fasilitas mailing list di internet sebagai media komunikasi dan diskusi untuk mata ajaran yang asuh di kelas MM. Apa yang terjadi ? Hanya beberapa orang yang subscribe ke mailing list tersebut. Sisanya ? Ternyata mereka belum bisa menggunakan internet. Ini terjadi di kelas pasca sarjana untuk para eksekutif. Demikian pula dengan beberapa peserta kelas MM yang mendesak bertemu saya untuk mendiskusikan papernya, karena dia berpendapat bahwa diskusi melalui internet itu tidak sopan. Ini adalah dilema ketiga yang dihadapi oleh para mobile workers. Dia sendiri siap untuk menjadi mobile workers, tetapi pihak-pihak yang berhubungan dengan dirinya tidak siap. Dia akan dianggap sebagai orang yang aneh sendiri.

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang menganggap menggunakan fasilitas teknologi informasi berarti merendahkan harkat kemanusiaan ? Nah, saya bingung sewaktu ngobrol dengan tipe orang seperti ini. Menurut dia, manusia itu dikodratkan sebagai makhluk sosial. Menurut pendapat dia, perkembangan teknologi informasi seperti internet saat ini membuat manusia cenderung untuk tidak bersosialisasi. Kesimpulannya, teknologi informasi merendahkan harkat kemanusiaan ! Bayangkan jika Anda memiliki pimpinan seperti ini. Bisa dipastikan kantor Anda steril dari fasilitas teknologi informasi. Yang jelas, teknologi informasi tidak diciptakan untuk merendahkan harkat kemanusiaan, melainkan untuk membuat kita bekerja lebih produktif dan lebih nyaman.

Dilema keempat adalah tingkat kematangan perusahaan dalam menggunakan teknologi. Bayangkan jika seseorang telah memiliki semua infrastruktur menjadi mobile worker dan sifat pekerjaannya pun demikian, tetapi perusahaan tidak memiliki server yang handal, internet belum dipergunakan secara luas, dan sebagainya. Jelas di karyawan ini tidak dapat berbuat apa-apa sebagai mobile worker. Inilah dilema keempat, di mana infrastruktur teknologi perusahaan belum mendukung.

Banyak pihak yang sepakat bahwa para mobile workers dengan fasilitas mobile telecommunications technology berpotensi untuk meningkatkan produktivitas individu, perusahaan, bahkan secara agregat di tingkat nasional. Hanya saja tetap ada dilema yang dihadapi. Menurut pandangan saya, empat dilema tersebut akan tetap ada selama beberapa tahun ke depan di Indonesia, karena memang kita baru mulai memasuki era mobile ini. Sekarang memang istilah e-business mulai bergeser ke istilah m-business (mobile business).

Penutup

Saya akan menutup bagian ini dengan sebuah pertanyaan, apakah semua orang harus menjadi mobile workers ? Jawabannya jelas tidak ! Ada pekerjaan tertentu yang tidak cocok dengan karateristik mobile workers, seperti pekerja di bagian produksi pabrik. Mereka harus berada di pabrik dari sejak mesin dihidupkan sampai dengan jam produksi berakhir. Nah, di sini terpulang kepada Anda, apakah mau bekerja sebagai mobile workers atau tidak ? Anda bebas memilih sesuai dengan karakteristik Anda masing-masing.

Yang jelas, jika Anda ingin bekerja sebagai mobile worker, janganlah memasuki perusahaan yang tidak siap untuk itu, baik dari sisi budaya perusahaan, maupun dari sisi kematangan penggunaan teknologi. Bisa-bisa Anda dianggap aneh, dan yang lebih parah, bisa dianggap tidak disiplin atau mbalelo, karena tidak sesuai dengan “aturan kantor”.

Menjadi mobile worker juga tidak berarti Anda bebas mengatur jam kerja Anda semaunya. Selalu tetap ada rambu-rambu atau koridor yang harus Anda pahami. Mobile worker pada hakekatnya adalah upaya untuk menuju efektivitas dan efisiensi yang tinggi, dan bukanlah suatu yang benar-benar freedom. Jadi, jangan salah persepsi mengenai hal ini.

Tulisan ini dan tulisan bermutu lain yang mengkombinasikan pengalaman pribadi dan berbagai pelacakan literature dan teori, dapat diakses di:  MOBILE WORKERS

Kontributor:

Riri SatriaRiri Satria, S. Kom, MM. Selain mejadi blogger yang produktif, Sarjana dari Fakultas Ilmu Komputer UI dan MM bidang manajemen stratejik & internasional dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini adalah kandidat Doctor dari Program Pasca Sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB).

Selama lebih dari 10 tahun kiprahnya di bidang pendidkan dan konsultansi, dia pernah aktif di sebagai konsultan / Dosen di berbagai institusi di antaranya: KPMG (Klynvelt Peat Marwick Goerdeler), Lembaga Manajemen PPM, Program Magister Manajemen – Sekolah Tinggi Manajemen PPM, PT. Daya Makara UI (Makara UI Consulting). Saat ini beliau Menjadi knowledge entrepreneur dengan memimpin sendiri sebuah Lembaga Konsultansi Manajemen di Jakarta.

.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email

About the Author:

1 Comment on "MOBILE WORKERS"

Trackback | Comments RSS Feed

  1. Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wished to say that I’ve truly enjoyed browsing your blog posts. After all I will be subscribing to your feed and I hope you write again soon!

Post a Comment