By January 29, 2009 14 Comments Read More →

Sekolah berstandar internasional vs sekolah Jepang

rsbi-vs-jpnSelama seminggu saya harus mendampingi rombongan kepsek dari Jateng berkunjung ke sekolah-sekolah di Jepang sebaga translator. Kedatangan kepsek yang sebagian besar adalah kepsek Rintisan SMA/SMP bertaraf internasional bertujuan untuk menjajagi kerjasama dengan sekolah-sekolah di Jepang dalam bentuk sister school.

Saya pribadi berpendapat bahwa sister school bukan milik RSBI atau SBI semata, tetapi sekolah dengan embel-embel nama apapun bebas untuk melakukannya. Saya mendapat kesan bahwa Kepsek yang datang  memang agak terbebani dengan keharusan untuk membentuk sister school tersebut sebagai salah satu syarat RSBI.

Salah satu konsep RSBI yaitu mengacu kepada standar negara-negara OECD, termasuk Jepang dianggap oleh sebagian pemikir Jepang sebagai konsep yang tidak jelas. Apalagi dengan keinginan untuk mendapatkan akreditasi dari badan khusus di Jepang tentang  status keinternasioanalan RSBI tersebut mendapat tanggapan yang sangat kritis karena tidak ada Badan Akreditasi Sekolah di Jepang atau lembaga akreditasi-akrediatasian di level pendidikan dasar dan menengah, sebagaimana yg dikehendaki oleh pengelola RSBI. Pun tidak ada kurikulum universitas semacam Cambridge yang bisa diadopsi dan dibeli hak patennya lalu lulusan RSBI diakui setara dengan lulusan-lulusan sekolah yang menerapkan sistem Cambridge.

Jepang sama sekali tidak mengenal istilah sekolah internasional maupun nasional. Menurut pandangan pakar pendidikan di sini, pendidikan bukanlah barang elit yang harus diberikan hanya kepada sebagian anak yang pandai saja. Tetapi pendidikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas yang sama. Memang mereka mengakui bahwa anak yang pandai peru difasilitasi secara lebih baik, tapi bukan dengan mendirikan sekolah berstandar internasional mengikuti standar negara lain.

Seorang prof Jepang menceritakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sama dengan kondisi Jepang di tahun 60an-70an, saat itu APK SD dan SMP di Jepang telah mencapai 95-97%, sementara APK SMA masih 50%. Yang dilakukan pemerintah Jepang bukanlah mendirikan sekolah unggul tetapi membangun sekolah-sekolah dengan fasilitas yang sama yang bisa mendidik anak-anak tanpa ada perbedaan. Yang karenanya dapat disaksikan fasilitas sekolah Jepang hampir sama dengan kualitas yang memadai proses pembelajaran.

Professor tersebut kemudian menanyakan mengapa Indonesia tidak mencoba untuk mempersiapkan pendidikan untuk semua warganya dengan kualitas yang sama seperti halnya Jepang ? Seandainya dana negara sedikit, dana itu harus dinikmati bersama oleh rakyat. Barangkali itu akan lebih baik bagi rakyat Indonesia, daripada membuat sekolah internasional.

Saya pribadi yang meneliti RSBI ini dari aspek latar belakang hukum dan penerapannya di lapang, sungguh sepakat dengan ide beliau. Dana yang disalurkan pemerintah untuk proyek ini sungguh besar semoga tidak menjadi sia-sia karena ketidakmatangan konsep yang kita punyai. Saya merasa agak sedih bahwa pada kenyataannya konsep RSBI hanya menjadi pembicaraan yang hanya dipahami oleh pembuat kebijakannya dan kepala sekolah di level pelaksana tidak memahami latar belakang pemikiran dan apa makna kata pendidikan berstandar bagi warga negara selain yang tertera di lembaran UU. Sedih sekali bahwa kepala sekolah ternyata belum diberi otonomi luas selain hanya menjadi pengikut kebijakan pusat.

Kunjungan ke sekolah-sekolah Jepang yang dilakukan oleh para kepsek mudah-mudahan menyadarkan kita bahwa sebuah sekolah yang menghasilkan lulusan yang baik di Jepang, ruang kelasnya masih berpapantuliskan papan tulis kayu,dengan alat tulis kapur, dan tidak dilengkapi dengan OHP. Bahwa setiap siswa belum mengakses internet secara bebas di sekolah, dan setiap siswa tidak dapat membawa laptop sendiri-sendiri ke sekolah dan bebas mengakses internet. Di seantero Jepang belum ada sekolah semacam ini, sebagaimana yang menjadi kriteria RSBI.

Tetapi tidak berarti bahwa pendidikan anak-anak Jepang tidak menginternasional, dan teknologi serta kecanggihan IT tidak mereka pahami dengan baik. Dengan bangganya kita memamerkan bahwa RSBI di Indonesia sudah memiliki ruang lab canggih, lab bahasa, pelajaran berbahasa pengantar berbahasa Inggris, sementara guru-guru di Jepang dan pemikir di Jepang mengernyitkan dahi, seperti apa gerangan pendidikan ala internasional itu ? Sebab fasilitas sekolah di Jepang diadakan karena memang itu dibutuhkan, dan mereka beranggapan bahwa fasilitas internet yang bebas akses tidak dibutuhkan di sekolah, maka tidak diadakan.

Saya menangkap kesan guru-guru di Jepang dan pemikir pendidikannya yang mendengarkan uraian RSBI agak sulit memahami kelogisannya.

Para pemegang kebijakan di Indonesia barangkali dapat berpikir ulang tentang konsep RSBI ini.Saya yakin bukan pendidikan mercu suar dan bukan pendidikan untuk orang berkantong tebal yang kita usung lewat program RSBI (semoga keyakinan saya benar)

Perenungan mendalam dan rasa keberpihakan kepada anak-anak yang dididik harus kita lakukan. Bahwa pendidikan itu adalah untuk anak-anak, agar mereka menjadi manusia dewasa dan berakhlak di lingkungannya, bukan pendidikan agar negara diakui oleh negara lain sebagai negara maju, atau agar diakui sebagai anggota OECD. Juga bukan barang jualan yang harus dijual mahal kepada rakyat. Pendidikan adalah hak rakyat yang harus dipenuhi pemerintah yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat.

Tulisan asli artikel ini dan artikel  menarik lainnya pada tulisan ini, dapat pula diakses melalui link ini : RSBI vs sekolah Jepang

Kontributor:

Murni RamliMurni Ramli. Lulusan Institut Pertanian Bogor ini pernah berprofesi sebagai tenaga pendidik di dua sekolah berasrama (boarding school) di Bogor. Dalam kesibukannya saat ini sebagai Kandidat Doctor (PhD) di bidang Manajemen Sekolah di Graduate School of Education and Human Development, Nagoya University, Japan, Beliau sangat aktif menulis tentang informasi dan pandangannya seputar manajemen & dunia pendidikan serta berbagai informasi menarik tentang negeri, budaya dan pandangan orang-orang Jepang. Pemilik blog “Berguru” ini juga sangat menyenangi dunia Penelitian dan Pengembangan serta mempelajari berbagai bahasa sehingga bisa menguasainya dengan cukup baik, di antaranya: Bahasa Inggris, Jepang, Arab, Jawa, Bugis dan sedikit Bahasa Sunda.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • MisterWong
  • Y!GG
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Squidoo
  • Technorati
  • YahooMyWeb
  • Socialogs
  • email
Posted in: Education, Featured

About the Author:

14 Comments on "Sekolah berstandar internasional vs sekolah Jepang"

Trackback | Comments RSS Feed

Inbound Links

  1. BERITA SEPUTAR PENDIDIKAN « Matematika Dwiwarna Blog | September 17, 2010
  1. Crysna says:

    Sebenarnya yang harus dibenahi negeri ini adalah komitmen dari tiap guru dan siswanya untuk belajar lebih maju. Tidak peduli sekolah internasional atau tidak tapi, kalo tiap unsur di dalamnya punya greget untuk maju pasti bisa. selain itu kedisiplinan dari tiap-tiap pribadi harus benar-benar diutamakan. menjadi pertanyaan besar buat kita semua, apakah bangsa ini sudah bisa diajak untuk maju. ataukah maju itu hanya dijadikan sebagai slogan belaka???

  2. eka says:

    Permasalahannya adalah : dengan anggaran sekitar 1 trilyun untuk subsidi sekolah berstandart internasional di tahun 2008, mampukah outputnya memberidampak signifikan bagi kemajuanpendidikan di indonesia, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pengurangan lapangan kerjam bergulirnya inovasi2 berbasis masyarakat ?? Bukankah anggaran APBN & APBD adalah hak seluruh rakyat ? RSBI dikatakan berhasil jika lulusannya mampu berkarya bagi masyaraktnya, dan sekolahnya menjadi lokomotif kemajuan pendidikan lainnya. Ironisnya, proyek RSBI di daerah-daerah menggandeng sekolah terbaik didaerahnya. dengan efek biaya yg besar untukproyek RSBI, mereka yang berprestasi, ingin menikmati fasilitas pendidikan yg berkualitas namun tak berdaya di sisi biaya…. mesti GIGIT JARI !!! Terpaksa… masuk ke sekolah “nomer 2″ … sungguh mengenaskan !!!

  3. NANANG SUDIANA says:

    As wr wb,

    salam kenal Li, saya nanang guru sma negeri 1 Banjar.usia sudah lapuk tapi kadang-kadang mimpi bunga sakura di puncak Puji.
    semogaLi sukses Y !

    salam

  4. Darma says:

    Saya mau tanya kalo mau lihat daftar karyawan perhotelan yang di black list di situs mana y?karena itu sgt membantu dlm recruitmen.saya sdg menggantikan bos yg sdg cuti di hr departmen.telp bos g aktif maklum mudik.Terima Kasih

  5. Sugeng K says:

    Bila dibandingkan dengan Indonesia boleh dibilang para pemikir pendidikan di Jepang terlalu kolot dan pemikir pemikir di Indonesia terlalu maju. Apakah memang benar demikian ?

  6. metty says:

    Tentang sekolah berstadart internasional, sy jg bingung kenapa sih harus dibedakan standart sekolah negeri yang bertaraf internasional dan yang bukan. apakah itu berarti akan memisahkan golongan anak2 orang kaya dan orang miskin saja ? sekolah negeri yang berstandar internasional sama saja artinya menjadikan sekolah negeri menjadi swasta, karena fasilitas dan biaya yang harus dibayar orang tua berbeda dengan sekolah negeri biasa.
    anak2 telebih yang masih SMP, menurut saya belumlah pantas menenteng laptop ke sekolah. mereka juga masih suka lupa menaruh barang dimana saja, belum lagi resiko hilang karena diambil orang atau mereka diculik,….ih serem.
    Alangkah baiknya bila pemerintah memberikan fasilitas yang sama utk semua sekolah, spy bisa dinikmati oleh anak2. karena anak2 yang pandai adalah aset bangsa di masa yang akan datang.

  7. assalamu’alaikum mba nya..

    mba aku suka banget tentang artikel ini,dan baru kepikiran tentang si RSBI itu sendiri..
    ngomong2 mba..

    mba ( maaf ya kalo di panggil mba :) ) suka nulis tentang dunia pendidikan selain manajemen ya?

    dan suka mempelajari berbagai bahasa juga ?

    aku mau subscribe tulisanmba dong …

    email aku e17os@plasa.com :)

    makasih mba

  8. Elland Yupa says:

    Assalamu’alaikum.wr.wb

    Hi mb, saya elland…Saya adalah salah 1 murid sekolah RSBI… dari SMP sampai SMA sekolah saya berstandart Internasional, tapi saya belum mendapat hikmah dari arti RSBI itu sendiri… Benar apa yang mb tulis di artikel ini…
    Saya ingin sekali bisa melakukan pertukaran pelajar di jepang, tapi saya tidak tau cara’a…saya sudah mencari banyak info2 tentang itu, dan kebanyakan melanjutkan kuliah, tidak pertukaran untuk SMA. ada, seperti AFS tapi itu tidak memandang RSBI atau bukan…
    Katanya kalau sekolah di RSBI itu lebih mudah untuk melakukan pertukaran pelajar, apakah itu benar?? Pada kenyatan’a sampai sekarang saya belum mendapat info pertukaran pelajar dari pihak sekolah atau pemerintah tentang itu…

  9. anjani says:

    Akhirnya di tahun 2012 ini RSBI diputuskan oleh MK untuk ditiadakan dengan alasan yang sama yang dikemukakan di atas, dana yang diperlukan besar, tapi hanya “orang-orang tertentu” yang dapat menikmati sekolah yang katanya bertaraf internasional ini.
    Semoga pendidikan indonesia jadi lebih baik.

  10. I am so grateful for your blog. Want more.

  11. Trinity says:

    Adoro me mostrar peladinha na website cam

  12. Mackenzie says:

    Good breakdown, you assisted me in understanding this topic much easier. Thank you plenty for the great information.

  13. Lydia says:

    fishing boat tend to be etched to mimic the dragon’s brain and also pursue, and the entire body of the vessel will be painted in

Post a Comment